5 Fakta Wayang Kulit, Warisan Mahakarya Indonesia yang Mendunia

  • Share


Parents, pernah menonton pagelaran wayang kulit? Pagelaran wayang kulit merupakan kesenian rakyat yang dilestarikan sampai sekarang. Tahu nggak, pertunjukan seni tradisional ini telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Mahakarya Dunia, lho.

banner 336x280

Jadi jangan heran, jika wayang telah dipertunjukkan di berbagai belahan dunia. Penasaran, kan, bagaimana sih sejarah dan filosofi wayang yang melegenda ini? 

Apa itu Wayang?

Sebelum mengetahui lebih dalam mengenai sejarah dan filosofi wayang, ada baiknya kita memahami arti dari wayang itu sendiri. Wayang adalah sebuah seni pertunjukan tradisional orisinal dari Indonesia. Wayang adalah Bahasa Jawa yang berarti “bayangan”. 

Wayang, atau dalam bahasa Inggris disebut shadow puppet, adalah sebuah boneka yang mewakili karakter manusia dan dipertontonkan dengan cara menyorotnya menggunakan lampu minyak (petromak), sehingga bayangannya muncul di kelir atau layar. Para penonton menyaksikan pertunjukan wayang dari sisi kelir yang lain.

Berbicara mengenai wayang, tak lepas dari peran dalangnya. Wayang dimainkan oleh dalang sebagai narator dialog dari tokoh-tokoh yang dimainkan dalam pagelaran wayang.

Ki Kasidi Hadiprayitno, peneliti wayang, menjelaskan bahwa dalang wayang tidak hanya berasal dari Indonesia saja. Namun kini dapat ditemui di Jepang yaitu Matsumoto, Jeffry dari Perancis, Wolter Ang dari Jerman Barat, Helen dari  Inggris, Werner Schulze dari Wina Austria, Willem Wardaya dari  Amerika Serikat, Gora dari Australia dan masih banyak lagi. Hal ini membuktikan betapa dahsyatnya pengaruh wayang terhadap pertunjukan kesenian di Barat.

5 Fakta Menarik Wayang Kulit

5 Fakta Menarik Wayang Kulit, Seni Khas Jawa yang jadi Warisan Mahakarya Dunia

1. Sejarah Wayang Kulit, Awalnya Berkembang di Lingkungan Istana

Wikipedia menuliskan bahwa wayang berasal dari kata Ma Hyang yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa dan Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna “bayangan”, hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. 

wayang kulit

Wayang kulit pada mulanya berkembang di lingkungan istana, terutama dalam masyarakat Jawa. Menurut Jelajahnusantara.co, asal usul wayang dianggap telah hadir semenjak 1500 tahun sebelum Masehi. Wayang lahir dari para cendekia nenek moyang suku Jawa di masa silam.

Pada masa itu, bentuk wayang masih sangat sederhana. Yaitu terbuat dari rerumputan yang diikat sehingga wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan dalam upacara-upacara adat Jawa. Adapun wayang kulit tertua yang pernah ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke 2 Masehi.

Artikel terkait: Sekelumit Sejarah Wayang Orang, Seni Khas Jawa Tengah yang Bertempur Melawan Zaman

2. Berasal dari Cerita Kuno 

wayang kulit

Melansir Kemendikbud, wayang terkenal dengan gaya musik dan cerita kuno yang berasal dari Jawa. Selama sepuluh abad, wayang tumbuh dan berkembang di Kraton Jawa dan Bali. Kemudian wayang menyebar ke pulau-pulau lain seperti Lombok, Madura, Sumatra, dan Kalimantan dengan gaya pertunjukan lokal dan musik yang telah berkembang mengikuti kekhasan daerah masing-masing.

Tahukah Parents, wayang dibuat dengan dengan sangat hati-hati, bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan gaya. Ada dua jenis utama wayang, yaitu wayang golek dan wayang kulit. Cerita wayang berasal dari mitos asli, epos India, dan pahlawan dari dongeng Persia. 

Pengaruh agama Hindu menambah khazanah kisah-kisah yang dimainkan dalam pertunjukan wayang. Kisah Mahabarata dan Ramayana menjadi kisah favorit pada zaman Hindu Budha. Kedua epik ini dinilai menarik dan memiliki kesinambungan cerita yang unik. Sehingga, pada abad ke X hingga XV Masehi menjadi cerita utama dalam setiap pertunjukan wayang. 

3. Filosofi Wayang Kulit

wayang kulit

Wayang diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan pesinden yang menyanyikan tembang. Musik gamelan dalam bentuk sajian gending menimbulkan harmoni yang berarti banyak hal yang harus diketahui di alam sekitar kehidupan ini. Baik dan buruk, salah dan benar, indah dan buruk, semuanya menjadi bentangan pengetahuan dan pengalaman yang selalu dihadapi manusia. 

Ki Kasidi Hadiprayitno menjelaskan biasanya pergelaran wayang menyajikan perjalanan hidup tokoh-tokohnya, menganut filosofi trisalokantara yaitu tiga tahapan kehidupan berupa jagad purwa, madya dan wasana (awal, tengah, dan akhir).

wayang kulit

Dalam penyajian lakon wayang didahului oleh prolog oleh dalang sebagai ungkapan permohonan maaf atas segala apa yang akan disampaikan dalang dalam pergelaran bila penonton tidak berkenan. Kemudian gending iringan musik karawitan secara berurutan.

Artikel terkait: Sejarah Tari Jaipong dan Filosofi di Balik Gerakannya yang Gesit dan Lincah

4. Penyajian Cerita 

Dalang setiap penyajian, lakon wayang memulai dengan adegan raja yang bertahta di hadapan punggawa-punggawanya. Hal ini memberikan gambaran bahwa cita-cita setiap orangtua agar anaknya kelak menjadi raja besar di dunianya. Raja dalam lingkungannya, paling tidak akan menjadi pimpinan atas dirinya sendiri. Orang yang konsisten dan mampu memimpin dirinya senantiasa akan mudah menjadi pimpinan orang lain.

5 Fakta Menarik Wayang Kulit, Seni Khas Jawa yang jadi Warisan Mahakarya Dunia

Dalam penyajiannya, lakon wayang menyiratkan tahapan dalam perjalanan tokoh-tokohnya yaitu masa kelahiran, masa dewasa, dan masa kematiannya.

Lakon-lakon model banjaran misalnya, banjaran Bisma, Arjuna, Bima, atau Gatotkaca. Banyak ajaran-ajaran moral yang dikemas yang mengacu pada budi pekerti luhur sebagai manusia. Wah, makna pagelaran wayang ini sangat bagus untuk diajarkan pada anak-anak ya, Parents.

5. Makna di Balik Cerita

5 Fakta Menarik Wayang Kulit, Seni Khas Jawa yang jadi Warisan Mahakarya Dunia

Adegan berikutnya persoalan kehidupan, misalnya perang brubuh yang diakhiri dengan musnahnya kejahatan oleh kebaikan.

Perjalanan yang melambangkan perkembangan kedewasaan seseorang dalam mengatasi berbagai persoalan. Antara penyelesaian masalah satu dengan yang lainnya memiliki tingkatan kesulitan serta memperlihatkan kedewasaan berpikir seorang tokoh. 

Sampai akhirnya pada adegan goro-goro seorang mengalami masa pancaroba yang secara watak tampak pada pola iringan wayang, yaitu dari pathet nem pathet sanga. Parents, ini berarti perubahan dari masa remaja ke masa lebih dewasa, terutama kedewasaan berpikir hingga mencapai keberhasilan. 

5 Fakta Menarik Wayang Kulit, Seni Khas Jawa yang jadi Warisan Mahakarya Dunia

Dalam pandangan budaya Jawa disebut istilah catur marga (empat jalan). Yakni perjalanan hidup manusia dari lahir sampai dengan keberhasilan meraih puncaknya, hingga berakhirnya kehidupan.

****

Teater wayang kulit masih sangat populer. Dan untuk berhasil bersaing dengan bentuk hiburan modern seperti video, televisi atau karaoke, tidak jauh dari kreativitas dalang yang menonjolkan adegan jenaka dengan mengorbankan alur cerita dan mengganti pengiring musik dengan lagu-lagu pop.

Baca juga:

id.theasianparent.com/reog-ponorogo

id.theasianparent.com/ayam-betutu

id.theasianparent.com/tari-piring

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.



Source link

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.