Deteksi Dini Preeklampsia Diperlukan untuk Ibu Hamil

  • Share


Tingginya angka kematian ibu hamil dan janin menjadi tamparan keras banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia sendiri, preeklampsia menjadi penyebab tertinggi hal ini terjadi. Untuk itu, deteksi dini preeklampsia dibutuhkan agar penanganan bisa lebih cepat dilakukan.

banner 336x280

Gejala

Bagi yang belum tahu, Preeklampsia merupakan gangguan tekanan darah yang terjadi pada ibu hamil dan dapat menyebabkan komplikasi, termasuk kerusakan pada organ, khususnya ginjal dan hati.

Umumnya, gangguan muncul setelah minggu ke-20 kehamilan. Pun preeklampsia kini juga mengalami pergeseran tren terkait organ tubuh yang diserang. Bukan melulu plasenta, preeklampsia kini mengarah pada penyakit jantung.

“Sebenarnya paling sering muncul itu di usia 9 bulan mencapai 83%, sebelum usia 34 minggu lebih jarang. Dulu ini penyakit plasenta, sekarang sudah mengarah ke organ jantung.

Semakin dini seorang perempuan hamil menderita preeklampsia, maka semakin berat pula konsekuensi untuk ibu dan janin”, demikian penuturan Dokter Spesialis Kandungan dari RSIA Bunda dr. Aditya Kusuma, SpOG dalam Sesi Edukasi Media: Deteksi Dini Preeklampsia untuk Kurangi Risiko Kematian Ibu dan Janin pada Selasa (12/10/2021).

Dalam sesi berdurasi 1 jam tersebut, dr. Adit memaparkan beberapa gejala awal yang umumnya timbul, antara lain:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Proteinuria (ditemukannya protein di dalam urin)
  • Sakit kepala terus-menerus
  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur atau sensitif terhadap cahaya
  • Nyeri di ulu hati atau perut kanan atas
  • Sesak napas
  • Pusing, lemas, dan tidak enak badan
  • Frekuensi buang air kecil dan volume urine menurun
  • Mual dan muntah
  • Bengkak pada tungkai, tangan, wajah, dan beberapa bagian tubuh lain
  • Berat badan naik tiba-tiba

“Preeklampsia ini munculnya tiba-tiba, kalaupun hipertensi sudah ada sebelum hamil, bukan berarti preeklampsia. Biasanya ibu hamil juga gak sadar tensinya tinggi karena sebelum hamil tensi baik-baik saja,” lanjut dr. Adit.

Artikel terkait: Waspadai Gejala Keracunan Kehamilan, Ini Penyebab dan Pencegahannya

Faktor Risiko

Deteksi Dini Preeklampsia

Adit menjelaskan, preeklamsia dalam bahasa Yunani bisa berarti petir. Hal ini dikarenakan kondisi tersebut tidak dapat diprediksi dan begitu datang bisa bersifat merusak. Terdapat beberapa faktor yang memicu terjadinya preeklampsia adalah:

  • Kehamilan pertama
  • Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Riwayat preeklamsia pada keluarga, misalnya ibu atau saudara perempuan
  • Kehamilan di bawah usia 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  • Hamil janin kembar
  • Ibu hamil dengan penyakit ginjal atau hipertensi kronis
  • Obesitas yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥ 30 kg/m2

Kondisi ini sejatinya tidak bisa dibiarkan mengingat komplikasi yang ditimbulkan. Salah satunya kelahiran prematur atau belum cukup bulan. Solusi plasenta atau kondisi plasenta yang terlepas sebelum waktunya juga dapat membahayakan bayi dan berisiko mengakibatkan pendarahan hebat bagi si ibu.

“Bayi yang lahir dari ibu dengan preeklampsia dalam jangka panjang berisiko obesitas. Ia juga berisiko menderita penyakit degeneratif seperti diabetes, kardiovaskular, dan sindrom metabolik. Kalau bayinya perempuan, bisa berisiko preeklampsia juga ketika nanti dia hamil,” ujar dr. Adit.

Deteksi Dini Preeklampsia

Deteksi Dini Preeklampsia

Pemeriksaan fisik, tes urin, dan USG menjadi sederet langkah awal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis indikasi preeklampsia pada ibu hamil. Tes urin dilakukan untuk mengetahui adakah kandungan protein di dalamnya.

Beruntung, teknologi medis semakin berkembang pesat. Kini, biomarker sFlt-1 dan PlGF telah hadir sebagai deteksi dini preeklampsia. Tes ini memiliki sejumlah kelebihan, yakni:

  • Perubahan kadar protein angiogenik seperti sFlt-1 dan PlGF yang dapat dideteksi sebelum gejala terjadi
  • sFlt-1 dan PlGF, dan rasio sFlt-1/PlGF, dapat digunakan untuk memprediksi dan mendiagnosis preeklampsia
  • Rasio sFlt-1/PlGF terbukti memiliki kinerja tes yang lebih tinggi daripada standar saat ini (menggunakan tekanan darah dan proteinuria).

Artikel terkait: 9 Barang Persiapan Melahirkan yang Harus Dibawa dalam Hospital Bag

Pemeriksaan biomarker ini sejatinya bisa dilakukan di semua usia kehamilan. Hanya saja, penanganan setiap trimester bisa berbeda. Semakin dini semakin baik, terlebih bila ada riwayat genetik ini di keluarga.

“Faktanya, sebanyak 10% preeklampsia bisa berulang. Untuk itu, lakukan tes rutin ketika usia kehamilan 11-13 minggu. Trimester awal seperti ini lebih mengutamakan pencegahan, biasanya dokter akan memberikan aspirin yang sudah diresepkan dokter,” terang dr. Adit.

Perlu diketahui aspirin dapat menurunkan risiko preeklampsia sebesar 90%. dr. Adit menegaskan jika skrining dilakukan lebih awal, maka dapat menekan kemungkinan biaya membengkak sebut saja rawat inap atau perawatan bayi prematur.

Jangan bayangkan prosedur yang menyeramkan, tes biomarker sFlt-1 dan PlGF dilakukan layaknya tes darah biasa. Sebagai gambaran, deteksi yang dilakukan di trimester awal membutuhkan biaya sekitar Rp 900 ribu. Sedangkan, untuk trimester kedua dan ketiga bisa mencapai Rp 1,8 juta karena penanganan berbeda.

Mengingat pergeseran sudah terjadi yaitu mengarah ke jantung, upaya pencegahan bisa dilakukan layaknya upaya Anda menjaga kesehatan jantung. Jalani pola hidup sehat sebelum, saat, dan setelah kehamilan.

“Belum ada makanan khusus untuk mencegah preeklampsia. Untuk itu, perempuan harus selektif memilih makanan dan jangan hanya memanjakan lidah saja. Coba modifikasi makanan sebelum hamil agar terbiasa,” pungkas dr. Adit.

Semoga informasi ini bermanfaat dan Bumil jangan sungkan melakukan deteksi dini preeklampsia demi kesehatan kehamilan dan calon bayi.

 

Baca juga:

id.theasianparent.com/melahirkan-bayi-prematur-dua-kali

id.theasianparent.com/manfaat-dha-bagi-ibu-hamil

id.theasianparent.com/tanda-seminggu-akan-melahirkan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.



Source link

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *